Refleksi Masa Kecil Gue

26 Des

Cerpen Anak Kompas
Nggak Usah Minder, Ardi

Di sore yang agak mendung itu, Ardi terlihat resah. Dia sedang bingung memikirkan keadaan perut ibunya yang sepertinya hendak memiliki adik kecil lagi. Ini artinya dia akan mempunyai adik lagi yang saat ini sudah berjumlah 3. Ini berarti akan ada 4 adik yang dimlikinya sebentar lagi. Dalam hati ia berontak dan sesekali menggerutu sendiri. “Kok bisa-bisanya ibunya akan punya adik lagi.” Ia tidak habis pikir. Apa ibunya tidak memikirkan akan perasaan anak sulungnya ini. Betapa selama ia ini memiliki perasaan malu yang terpendam selama 3 bulan ini ini. Dengan statusnya sebagai anak SD yang baru kelas 4, tapi dia sudah memiliki banyak adik. Belum lagi 2 tahun adiknya lahir sebentar lagi Ardi bakalan punya adik lagi. “Wuih, malu banget kalo ketemu teman-teman. Mau ditaruh di mana, nih muka! “gerutu Ardi dalam hati.

Sudah 3 bulan ini tingkah laku Ardi memang tampak aneh. Ardi yang mulanya begitu baik, selalu hormat dan patuh kepada orang tua serta menyayangi ketiga adik kecilnya, kini mulai berubah. Sekarang ia sering membantah perintah dan nasihat dari ibunya. Saat ayahnya pulang sebulan yang lalu, ia juga terlihat tidak seantusias kepulangan ayahnya seperti yang sudah-sudah. Padahal ayahnya sudah 4 bulan ini baru pulang dari Jakarta. Adik-adiknya juga mengalami perubahan sikap dari kakak tercintanya itu. Ardi sudah jarang mau menggendong si kecil, Agus. Kepada Siti dan Wiwin dia juga sering bertengkar dengan keduanya. Tidak mau mengalah sebagaimana sebelum-sebelumnya.

Setelah ditelusur ternyata Ardi benar-benar terpengaruh dengan kata-kata temannya, Iskandar, yang mengejek dia dan keluarganya, terutama mengenai jumlah adiknya yang begitu banyak. “Hei, Ardi masa’ kamu ga malu tho punya adik 3. Idiiih, banyak banget sih keluargamu. Kayak keluarga kucing aja. Beranak mulu.” Teriak Iskandar sambil nyengir-nyengir. Ardi yang tidak menyangka kalau akan diejek sejahat itu oleh Iskandar, membela diri sekenanya. “Hei, Iskandar, kamu jangan asal ngomong ya. Jaga mulut kamu. Aku ngga malu dhong, soalnya rumahku khan malah jadi rame. Ngga kaya rumah kamu, yang sepi kaya kuburan! Kasihaan, deh lu…” Iskandar ternyata masih punya jawaban. “Ardi…Ardi!!! Mending sedikit keluarganya, dhong! Lagian aku khan masih kecil. Ibuku sebentar juga akan punya adik bayi lagi. Jadi sebentar lagi ga bakal sepi lah. Coba kamu kalau besok kamu punya adik lagi, terus punya adik lagi, terus punya lagi. Adhikmu akan menjadi berapa, Di. Apalagi kalau ada yang kembar. Rumahmu akan penuh sesak oleh anak-anak kecil. Kayak pasar saja. Hiiiii, enggak banget githu loh!” Kata-kata yang keluar dari Iskandar begitu pedas dibarengi dengan juluran lidahnya ke arah Ardi.

Kontan si Ardi makin memerah telinganya. Tapi belum sempat dia membalas pernyataan terakhir dari Iskandar, Iskandar sudah keburu pergi ke kantin sekolah. Setelah sedikit cekcok dengan Iskandar inilah, Ardi malah menjadi memikirkan terus kata-kata Iskandar dan akhirnya malah membenarkan kata-kata Iskandar, “Iya, ya…Iskandar ada benarnya juga dia. Kok aku ngga punya malu ya…Ayah-Ibu kok ngga mikir ya…Mbok kalo punya anak itu diatur biar ga kebanyakan.” Ia juga menjadi teringat dengan beberapa temannya yang kadang suka menyindir dan ngata-ngatain tentang jumlah adiknya yang jumlahnya tidak biasa. Rata-rata teman-temanya hanya punya 1 adik atau malah belum punya adik. Teman-teman sepermainannya di sekitar kompleks pun sama. Mereka juga sering mengolok-oloknya. Mengingat ini semua itulah, ia menjadi marah pada diri sendiri dan ayah ibunya.

“Ardi, kok kamu bengong begitu tho, Sayang. Itu lho temani Tio sebentar. Ini khan ibu baru masak nasi goreng kesukaanmu, lho?” kata ibu Ardi penuh kasih sayang. Ditegur seperti itu, Ardi malah merasa seperti dipojokkan oleh ibunya. “Ibu ini lho, aku ngga bengong kok. Lagian apa-apa kok Ardi terus sih, yang disuruh-suruh. Bosen tahu, Bu?” teriak Ardi sambil meninggalkan ruangan dapaur. Ibu Ardi kontan kaget mendengar jawaban anak sulungnya yang tidak seperti biasanya. “Ardi, kok jawaban kamu gitu, sih. Sekarang ibu juga jadi sering melihat tingkah laku kamu yang begitu aneh, Sayang.” Tanya ibu Ardi dengan nada lembut. “Semua gara-gara ibu ama ayah. Ngapain sih, puny anak banyak banget. Ini lagi kayaknya ibu mau punya anak lagi tho? Ardi, malu ibu, malu!!! Hu…hu…hu..” Ardi menjawab pernyataan ibunya dengan menjerit dan diakhiri dengan tangisan sendu.

*****

“Guh, si Ardi mana tho? Dia kok jarang mau main-main ya…Memang dia kalo di rumah cuma belajar saja ya, ga mau main githu. Kasihan banged ya, itu khan ga seimbang dan ngga asyik banged, iya khan?” tanya Slamet pada Teguh, saat Slamet datang bermain ke rumah Teguh. Sebenarnya Ardi dan Teguh rumahnya sangat dekat dan berhadap-hadapan. Tapi semenjak Ardi memiliki adik ketiga, Ardi kelihatan membuat jarak dengan Teguh dan jarang sekali mau bermain dengan Teguh.

Saat itu Slamet yang rumahnya berjarak 3 kilometer dari rumah Teguh dan Ardi ingin bermain ke rumah keduanya. Karena Ardi susah ditemui ahirnya Slamet memutuskan untuk main di rumah Teguh saja. Mereka berencana bermain layang-layang di lapangan dengan membuat layang-layang sendiri. Selama ini ketiganya merupakan sahabat yang cukup akrab. Namun akhir-akhir ini Ardi jadi jarang ngobrol dengannya. Ya, Ardi memang anak yang sedikit tertutup. Namun teman-teman Ardi tetap suka dengan Ardi karena Ardi nggak neko-neko serta merupakan si bintang kelas yang selalu menonjol nilai-nilai ulangannya. Hanya kekurangannya itu satu, dia jarang sekali mengobrol dengan teman-temannya. Entah ada apa yang membuat dia menjadi seperti itu. “Mungkin, kata Teguh benar, si Ardi minder karena adiknya yang banyak.”

*****

Tiga tahun pun berlalu dengan segala lika-likunya. Ternyata rasa malu yang dimiliki Ardi masih tetap seperti dulu. Rasa itu tak bersisa. Ardi yang saat ini duduk di bangku SMP masih memendam perasaan malu terhadap jumlah adiknya yang memang benar sekarang menjadi 4 sebagaimana dikatakan oleh Iskandar dulu. Teman-teman sekelas Ardi di SMP bahkan teman sebangkunya yakni Ginanjar tetap belum tahu tentang seluk beluk Ardi terutama kehidupan pribadinya. Dia jarang mau bercerita tentang keluarganya, baik ayah, ibu maupun kakak atau adiknya. Dia pun jarang sekali bercanda dengan teman-temannya. Padahal kebanyakan dari anak-anak kelas 1E terkenal sebagai anak-anak yang bawel dan banyak bercerita. Ya, semuanya hampir memiliki kesamaan sifat, kecuali Ardi. Bahkan si Ganjar tidak tahu di mana Ardi tinggal. Hal ini karena jika Ganjar ingin main ke rumah Ardi, Ardi selalu menolak. Dengan berbagai alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.

Akhirnya pada suatu sore Ardi kedatangan tamu di rumahnya. Saat itu yang menemui tamu tersebut adalah ayah dan ibunya yang kebetulan pas di rumah. Ayah Ardi sekarang di rumah dan tidak lagi merantau ke Jakarta. Sekarang beliau fokus menjadi petani saja. Tamu yang datang saat itu adalah Bapak Muslimin, ayah Mba Endah, kakak kelas Ardi di SMP. 2 Hari yang lalu Ardi main ke rumah Mba Endah di Selang untuk meminjam kain sampur untuk pelajaran seni tari. Eh, tiba-tba kok sekarang bapak dan ibu Muslimin datang ke rumahnya. Ada apa ini? Awalnya Ardi juga belum tahu. Tiba-tiba saja dia yang sore itu sedang menonton televisi di rumah Rahmat akhirnya disuruh pulang untuk dimintai persetujuan tentang maksud tamu mereka. Ternyata tujuan kedatangan Bapak dan Ibu Muslimin adalah untuk mengangkat Ardi menjadi bagian dari keluarga mereka. Kebetulan, Bapak da Ibu Muslimin hanya memiliki 3orang anak dan semuanya sudah besar-besar. Putra sulung mereka adalah Mas Agus yang sedang kuliah semester 4 di Jogja. Mas Tiyono, adalah anak nomor dua dan menjadi siswa kelas 3 SMU sedangkan anak bungsu mereka adalah Mba Endah, siswa kelas 3 SMP. Jadi, kemungkinan keinginan mereka mengangkat Ardi menjadi anak karena di samping membantu keluarga Ardi juga agar Ardi bisa meramaikan suasana rumah yang sebantar lagi akan sepi karena Mas Tiyono sebantar lagi kuliah juga mengkuti jejak Mas Agus.

Akhirnya sore itu juga Ardi diboyong untuk pindah rumah di daerah Selang, di daerah kota Kebumen. Saat perjalanan ke Selang Ardi malah menangis dan matanya berkaca-kaca. Perasaannya begitu campur aduk antara kesedihan, khawatir dan berbagai perasaan tidak karuan lainnya. Sampai di Selang dengan suasana rumah yang begitu besar dan bagus sempat membuat Ardi takjub dan melupakan kesedihannya. Namun Ardi tetap saja masih menyisakan kesedihan karena jauh dari keluarga yang sudah 13 tahun bersamanya.

Ardi kini berubah menjadi anak bungsu di keluarga barunya yang terbilang paling kaya di daerah Selang itu. Hanya saja sifatnya yang pemalu dan tertutup benar-benar masih belum bisa hilang. Ardi masih jarang mau mengobrol dengan keluarga barunya. Akibatnya keluarga barunya ini terkesan cuek dengan Ardi. Bahkan terkadang mereka nampak sewenang-wenang nyuruh ini nyuruh itu. Aplagi kalau ada hal salah yang dilakukan Ardi maka kata-kata pedas dan tidak mengenakkan sering kali keluar menimpa Ardi. Jika sudah begini si Ardi menjadi sedih. Dia jadi sering menangis sendiri di kamar tidur. Bahkan kamar mandi pun menjadi tempat paling nyaman buat Ardi untuk mencurahkan perasaan sedih dan gundah gulananya. Kalau mengingat seperti ini Ardi jadi teringat dengan kelakuannya saat masih di rumah aslinya dulu. Selalu membentak adik-adiknya. Suka menggerutu dan ngata-ngatain kepada Ibu hal-hal yang kurang bagus misalnya.

Akhirnya karena sering merenung dan menyadai kesalahan-kesalahanya di waktu SD, Ardi kini mulai berubah. Ibu dan adik-adik di rumah pun benar-benar merasakan kembali perubahan itu. Ardi sekarang menjadi begitu penyayang kepada semua adiknya. Ia juga menjadi sangat hormat kepada ayah ibu di rumah. Kepada keluarga angkatnya ia juga mulai kelihatan mencair, akrab dan bisa menyatu.

Ini tak lain juga karena Ardi menemukan 2 orang sahabat di antara banyak teman-teman SMPnya yang begitu baik dan bersahabat yakni Arif dan Hendro. Arif pernah bilang ke Ardi, “Ardi, kamu tuh ngga usah malu dan minder lagi ya. Aku aja iri lho sama kamu yang punya adik 4. Semuanya nurut-nurut dan baik lagi. Aku bakalan seneng banged kalo di rumahku ada suara anak kecil, lho. Maklum lah aku hanya anak satu-satunya di rumah sih. Coba adikmu satu buat aku githu. Bayangkan saja aku di rumah sering sendirian karena ayahku kerja di Jakarta dan ibu juga selalu ke pasar tiap harinya dan baru pulang pada sore harinya. Makanya syukuri saja, Di. Belum lagi kalo kamu melihat si Wendy yang sekarang tinggal hanya dengan ibunya saja karena ayahnya meninggal setahun lalu. Jadi kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini ya. Mulai saat itulah Ardi menjadi anak yang suka bersyukur kepada Tuhan atas apa yang ada.

Iklan

“Wader & Udang Crispy Juki”

3 Feb

wader  
1. Enak & bergizi
2. Halalan thayyiban
3. Isi lebih banyak ± 200 gram
4. Produksi asli dalam negeri
5. Harga terjangkau

Info Pemesanan: Cak Eri
SMS/ Call : 082143774816
BBM : 7F5E0D55
WA : 087852967684

“Abon Ikan Tuna Sabiha”

3 Feb
Abon Ikan Tuna

Abon Ikan Tuna

“Abon Ikan Tuna Special”
Maknyuss !!! (Enak, Lezat & Praktis)
✅ Home-made produk UMKM lokal
Kaya Omega 3, sgt bagus utk kecerdasan anak
Non kolesterol + protein tinggi
Tanpa MSG dan bahan pengawet
⏰ Kemasan ekslusif 100gr, masa expired 6 bulan
Monggo di order…😀

Kontak Person:
WA. = 087852967684
BBM = 7F5E0D55
SMS = 082143774816

8 Tips Hidup Sehat Ala Rasul

8 Jan

Madu Sobat sehat, “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21). Banyak yang mengatakan sehat itu mahal, padahal justru sehat itu murah, sakit lah yang mahal! Penting bagi kita untuk melakukan tindakan pencegahan sebelum sakit. Salah satunya adalah dengan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah. “Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412). Ketika Kaisar romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah, ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit. Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya. Apa sajakah tips kesehatan Rasulullah? 1.Rasulullah SAW cepat tidur dan cepat bangun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk begadang. Hal itu yang melatari beliau tidak menyukai berbincang-bincang dan makan sesudah waktu isya. Jika sudah waktunya tidur, maka Rasulullah SAW akan cepat tidur. Tidur yang tepat di malam hari kira-kira adalah seusai istirahat setelah shalat Isya, kurang lebih pukul 21.30. Kemudian kira-kira pukul 03.00 sudah bangun di pertiga malam untuk shalat malam. Dengan demikian waktu yang digunakan untuk tidur adalah kurang dari delapan jam. Dalam konteks ini, penggunaan waktu 24 jam dalam satu hari satu malam, adalah sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk beribadah kepada Allah, dan sepertiga lagi adalah untuk tidur yang cukup. Tentu saja, perbandingan ini tidaklah kaku, melainkan dalam pengertian dalam keseimbangan. 2. Rasulullah sering berpuasa “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa… Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa luar biasa ajaib karena dapat menyembuhkan ratusan jenis penyakit lainnya seperti: – Tekanan darah tinggi – Penyakit diabetes – Penyakit asma dan saluran pernapasan – Penyakit jantung dan pengerasan arteri – Puasa menyembuhkan penyakit hati tanpa efek samping – Menyembuhkan penyakit kulit khususnya alergi dan al-okzma kronis – Puasa mencegah penyakit paru-paru – Mencegah penyakit kanker – Puasa dianggap sejata paling ampuh dalam dunia kedokteran 3. Tidak pemarah Nasihat Rasulullah:”Jangan marah”, diulangi tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kekuatan seseorang bukanlah terletak pada jasad, tetapi pada kebersihan jiwa. Tidak mudah marah juga terbukti menyehatkan tubuh. 4. Jaga kebersihan Rasulullah SAW senantiasa tampak bersih dan rapi. Setiap kamis atau jumat, beliau mencukur rambut halus di pipi, memotong kuku, bersiwak, serta memakai minyak wangi . Rosul juga sangat menjaga kebersihan mulut dan gigi melalui sunah Beliau bersiwaq sampai sekarang dianut oleh umatnya. 5. Menjaga Pola Makan Di pagi hari pula Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesendok madu asli. Pada dasarnya, madu bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. “Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.) Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”. Hal itu terbuki ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar. Racun yang tertelan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Salah seorang sahabat, Bisyir ibu al Barra’ yang ikut makan tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selamat dari racun tersebut. “Rasulullah saw bersabda: “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.) Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga bisa dengan shalat. 6. Berolahraga Rasulullah pun melakukan berbagai jenis olahraga yang menunjukkan bahwa tubuh beliau tidak hanya sehat tetapi juga kuat. Beliau pernah berlomba lari, bertanding gulat, juga memanah. Rasulullah bersabda : “Ketahuilah bahwa yang dimaksud kekuatan itu adalah memanah, beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR. Muslim). Di dalam hadits lain juga dijelaskan : “Kamu harus belajar memanah, karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (HR. Bazzar dan Thabrani). 7. Bersosialisasi Sebuah studi di Harvard School of Public Health menemukan bahwa pria berusia 70-an tahun yang memiliki hubungan sosial yang baik memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami kerusakan atau penyakit jantung. Kita semua mengetahui bahwa Rasulullah memiliki banyak sahabat dan senantiasa menjaga silaturahim dengan karib kerabat serta bertetangga dengan baik, bersosialisasi juga merupakan salah satu tips menjaga kesehatan ala Rasulullah yang patut kita tiru. 8. Berbekam Said bin Jubir berkata dari Ibn Abbas r.a bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kesembuhan dapat diperoleh dengan tiga cara: pertama dengan meminum madu (dengan obat herbal), kedua dengan berbekam/hijamah, dan ketiga dengan (terapi) besi panas. Dan aku tidak menganjurkan umatku untuk melakukan pengobatan dengan besi panas.” (HR. Bukhori) *dari berbagai sumber Sumber: Situs Madu

Stick Sehat Alamie Surabaya

20 Des

Stick Sehat Alamie Surabaya (1)“STICK SEHAT ALAMIE”

Terbuat dr tepung terigu + sayuran & buah2an sehat
* Bumbu2 dari bahan alami spt telur, air, garam, bawang
* Ada 5 varian:
* wortel,
* bayam hijau,
* bayam merah,
* jagung manis &
* buah naga
* Non MSG, tnp pengawet, tnp pewarna & tnp bhn kimia
* Awet s/d 4 bulan (tertera expired date-nya)
* Kemasan plastik, berat bersih 150 gram
* Halal MUI & Full Depkes RI PIRT No 2063471011084-17

Info Pemesanan:
SMS/Call: 082143774816
BBM: 7F5E0D55
WA: 087852967684

Maju Terus Perbankan Indonesia

5 Nov

bendera-indonesia

by eri winardi

11 Juli 2008

Sudah 4 bulan ini aku keranjingan situs pertemanan friendster. Setiap kali ngenet aku mesti sempatkan untuk membuka akun FS-ku. Banyak sekali pesan-pesan menarik di sana. Perjalanan Arif, sohibku sejak SMP yang berhasil ke Italia misalnya. Upload ratusan fotonya selama 3 bulan mengikuti Short Course di Venice, Italia paling banyak mendapat testimoni dari teman-teman SMA dan ITBnya. Hebatnya, selain keliling Italia, Arif juga sempat ke Prancis dan Belgia.

Sebelumnya aku dikejutkan dengan kemunculan Ema di FS pada medio April. Ema adalah temanku saat SMP dan SMA di Kebumen. Uniknya kami selalu satu kelas. Kuliahnya yang di IPB membuatku jarang mendengar kabarnya. Tiba-tiba Si Ema muncul dalam pose wisudanya April lalu. Berarti 4 tahun 6 bulan dia menyelesaikan studinya di Bogor. Aku langsung send sms selamat kepadanya. 4 bulan berselang aku dapat kabar dari Win, temanku di Elektro Undip bahwa Ema diterima kerja di Bank Z Pusat di Jakarta. “Meskipun kuliah di Peternakan ternyata bisa juga ya kerja di bank,” gumamku pada Win saat sedang main di kosannya di daerah LPPU, Tembalang.

27 Oktober 2008

Minggu masih pagi saat aku pulang dari Bandung. Kepergianku ke Bandung selama seminggu mendatangkan pengalaman dan hasil luar biasa. Aku menang lomba menulis buku. “Tahu hadiahnya berapa? 15 juta! Bayangkan, gedhe banget!” kataku dalam hati seolah sedang ngobrol dengan teman-teman. Jujur aku tidak menyangka akan mendapatkan durian runtuh seperti ini. Selain itu aku juga jadi punya pengalaman naik Kereta Api Eksekutif Bandung-Semarang.

Semua teman-teman kos surprice dan merekomendasikan agar uangku yang sebesar itu segera ditabung saja atau buat investasi usaha. Esok paginya aku langsung menabung separo uangku di bank. Sedangkan separonya lagi kugunakan untuk membayar hutang-hutangku serta kuberikan untuk orang tuaku di Kebumen. Karena aku hanya punya 1 buku tabungan maka aku masukan separo uang hadiah itu ke Bank Y, bank tempatku membayar SPP selama ini.

2 Desember 2008

Aku magang dengan Iwan dan Dede di Cilegon. Tepatnya di PT CMS. Kami bertiga mendapatkan banyak hal berguna terkait bidang mekanikal di magang ini. Bagaimana cara mengelas pipa baja supaya mulus, bagaimana membuat schaffolding yang tinggi menjulang, bagaimana membetulkan pompa sentrifugal dan berbagai hal lain. Magangku ini merupakan Project Maintenance Power Plant di DSS Serang. Seminggu pertama, kami bertiga harus ikut bolak-balik Cilegon-Serang. Kurang lebih 45 menit perjalanan naik mobil. Biasanya yang bertindak sebagai supir adalah Pa Galung langsung, Manajer Proyek PT CMS sekaligus seniorku di Mesin Undip angkatan 86. Sambil menyetir mobil, berulang kali beliau harus berbagi konsentrasi dengan 2 HP Black Berry-nya yang sering berbunyi. “Iya, untuk peminjaman modal kita pakai Bank X saja soalnya lebih mudah prosedurnya”, kata Pa Galung kepada penelepon di seberang sana. Kutebak sepertinya itu dari Pa Bas, Direktur Utama PT CMS. Mendengar kata Bank X, aku jadi teringat dengan Bank X saat masih di Beastudi Etos dulu.

1 Desember 2009

Hari ini dateline terakhir lomba perbankan kontes suara konsumen “Aku dan Bank”. Semalam aku sudah mencoba lagi Googling di internet terkait perbankan. Masukan-masukan buat perbankan Indonesia, saran-saran buat perbankan nasional dan kata-kata sejenis merupakan kata-kata yang kuketikkan di situs google. Barangkali saja ada yang benar-benar nantinya mengena untuk kujadikan tambahan ide menulis cerpen di kontes ini.

Malam-malam aku juga sempet pusing memikirkan jadi tidaknya keberangkatanku menghadiri pernikahan Ita, temanku di IM3. IM3 adalah komunitas anak-anak Fakultas Teknik Undip angkatan 2003. Awalnya aku memutuskan ikut. Dan itu berarti semua agenda besok pagi termasuk penyelesaian cerpen juga didelete. Cuma, sehabis isya aku masih saja terbayang-bayang akan sayangnya meninggalkan beberapa agenda penting tanggal 1 besok. Beruntung dalam kebimbanganku aku dapat sms dari Lutvan, PJ keberangkatan kami ke tempat married Ita di Banjarnegara. Beliau mengatakan jatah kursi untukku tidak ada. Akhirnya aku memutuskan di Semarang saja besok pagi. Sekitar pukul 21.00 aku mulai konsentrasi dengan cerpenku. Saat coba menulis, sekitar jam 21.30 aku malah tertidur di samping laptop. Aku juga lupa mematikan laptopku itu.

Keesokan paginya otomatis aku gelagapan. Namun kucoba tetap tenang saat menggarap cerpenku ini. Di sela-sela menulis, terutama saat minum dan rehat sejenak, aku sempat berbincang dengan Taufan yang tidak jadi ke Banjarnegara karena kesiangan bangun tadi pagi. Teman-teman IM3 kemarin sepakat untuk berangkat pukul 3.30 dini hari. Aku, Taufan dan teman-teman kosanku yang lain bangun pukul 04. 45.

Kami diskusi singkat tentang masukan buat perbankan. Taufan lebih menyoroti tentang kasus Bank P yang sedang hangat akhir-akhir ini. “Pihak perbankan harusnya benar-benar menjaga amanah uang dari masyarakat dengan baik. Jangan sampai kepercayaan masyarakat luntur dengan kasus-kasus lain yang menimpa bank-bank terkait manajemen internal,” katanya. Dalam hati aku bergumam, “Bener juga nih, si Taufan.”

Setelah menyimak penjelasan dari Taufan, aku jadi teringat dengan Bank O di luar negeri yang digagas Muhammad Yunus. Bagusnya Bank O yang menganugerahi Muhammad Yunus dengan hadiah nobel perdamaian itu adalah pengentasan kemiskinan masyarakat melalui pinjaman lunak kepada pihak wanita. Wanita yang selama ini kurang tersentuh pinjaman bank, ternyata saat diberikan akses ke bank malah benar-benar bagus dan mampu mengembalikan pinjaman dengan baik. Berdasarkan data dari majalah keuangan yang kubaca, 98 % peminjaman di Bank O berjalan lancar. Saat ini Bank O sudah memiliki ribuan cabang di mana-mana. Tentunya ini prestasi yang amat mengagumkan.

Saat mengalihkan ingatan ke perbankan Indonesia, aku berharap sekali perbankan kita ke depan akan lebih bagus lagi. Caranya adalah dengan senantiasa menjaga konsistensinya dalam melayani masyarakat secara profesional dan kredibel. Sehingga tidak akan terjadi lagi kasus-kasus yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Doaku, “Maju terus perbankan Indonesia.“

Sinergi: Kata Kunci Pemberantas Laju Terorisme

5 Nov

Sinergi: Kata Kunci Pemberantas Laju Terorisme

 

Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘aalamiin. Artinya Islam sangat fokus dengan kebaikan dan perbaikan semua insan. Islam juga memiliki berbagai karakteristik agung yang khas. Salah satunya adalah mengajak seluruh manusia kepada amal shalih dan akhlak mulia. Hal ini sebagaimana tertuang dalam 2 firman Allah SWT berikut:

 

Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“                                  (QS. Al A’raf:199)

 

 

Artinya: “…Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”                                                                                          (QS. Fushilat: 34)

 

(Yazid, 2006: 29)

 

Di samping itu, Islam pun memerintahkan suatu prinsip dasar bagi pemeluknya yakni prinsip amar makruf nahi munkar (menganjurkan kebajikan dan mencegah kemunkaran). Menurut Imam Muhammad Al Baqir, prinsip ini membuat seorang Muslim senantiasa berupaya membuat pembaruan dan berjuang terus menerus menentang kerusakan dan kekejian. Al Quran memfirmankan:

 

 

Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentunya itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

 

Nabi SAW bersabda:

“Kamu harus menyuruh kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kalau tidak, Allah akan membuatmu dikuasai oleh orang mungkar. Kemudian orang baik di antara kamu akan berdoa, namun doanya sia-sia.” (Nahj al Balaghah)

 

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.“

(QS. Al Hujarat:13)

(Muthahari, 2002: 199)

 

Namun ternyata, beberapa ayat suci Al Qur’an dan sabda nabi di atas, yang jelas-jelas mencerminkan sifat-sifat mulia agama Islam tidak menimbulkan korelasi positif dalam kenyataan keagamaan di lapangan. Justru saat memasuki milenium yang ketiga ini, banyak problem yang menerpa umat Islam. Belum selesai dengan penjajahan dan kemiskinan, umat Islam dipojokkan dengan isu terorisme. Padahal pada dasarnya definisi terorisme tidak terlepas dari pertarungan berbagai kepentingan. (Srijanti dkk, 2007: 244)

Perlu diketahui, terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangan-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi. Oleh karena itu para pelakunya (“teroris”) layak mendapatkan pembalasan yang kejam. (Wikipedia.com)

Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan terorisme, satu di antaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear.” Kegiatan terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan di mana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war. (Wikipedia.com)

Di dunia, terorisme bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dan dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Noam Chomsky dalam bukunya “Menguak Tabir Terorisme Internasional”, kelihatan begitu pesimistis dan sedikit mencemooh melihat cara memandang realitas sekarang ini. Ia menyebutkan, sejumlah newspeak (mengutip kata-kata George Orwell) telah dibuat untuk membatasai pandangan tentang realitas. Sekarang, kata Chomsky, kita mempunyai dua dunia, yakni dunia yang sebenarnya dan dunia yang terbentuk dalam pikiraan kita: dunia real dan dunia newspeak. Ini berarti kita sudah memiliki dan mengikuti kamus yang dikeluarkan oleh penerbit negara-negara adikuasa.

Kejadian teror merupakan isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal akibat teror tersebut telah mempersatukan dunia melawan terorisme internasional. Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind). Menurut Muladi, tindak pidana terorisme dapat dikategorikan sebagai mala per se atau mala in se, yang tergolong kejahatan terhadap hati nurani (crimes against conscience), menjadi sesuatu yang jahat bukan karena diatur atau dilarang oleh Undang-Undang, melainkan karena pada dasarnya tergolong sebagai natural wrong atau acts wrong in themselves. Bukan pula mala prohibita yang tergolong kejahatan karena diatur sedemikian rupa oleh Undang-Undang.

Dalam rangka mencegah dan memerangi terorisme tersebut, sejak jauh sebelum maraknya kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk terorisme terjadi di dunia, masyarakat internasional maupun regional serta berbagai negara telah berusaha melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai terorisme.

Selama ini, terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama. Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya Amerika Serikat yang membuat standar ganda dalam penyebutan teroris terhadap berbagai kelompok di dunia. Di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikatlah yang nyata-nyata melakukan tindakan terorisme dengan cara mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati. Namun pasca tragedi 11 September 2001, umat Islam benar-benar tersudut karena tragedi September Kelabu itu ditafsirkan beberapa pihak sebagai kebangkitan terorisme Islam. Pihak tersebut khususnya adalah orang-orang Barat.

Kata-kata “teroris Islam atau Islamic terorism” yang saat ini berkembang di masyarakat jelas memberi stigma yang berpengaruh ganda. Secara politik mendorong semakin meningkatnya kebencian nonmuslim terhadap Islam dan kaum Muslimin dan secara pemikiran semakin menghalangi masuknya persepsi tentang Islam yang benar kepada orang-orang Barat khususnya. Sedangkan bagi kaum Muslimin -bila yang tidak memiliki imunitas- dapat melahirkan kebencian terhadap agamanya (Islamphobi). Maka dari itu, kampanye untuk mendudukkan hal yang benar tentang Islam harus terus digalakkan. (Prayitno dan Ridha, 2002: 91)

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 1 berikut, maka Indonesia pun tidak terlepas dengan isu terorisme Islam.

 

 

Tabel 1. Populasi muslim terbesar di dunia (perkiraan 2009)

 

Nomor Negara Jumlah Muslim

(dalam juta)

1 Indonesia 207
2 Pakistan 171
3 India 145
4 Bangladesh 138
5 Turki 76
6 Mesir 75
7 Nigeria 75
8 Iran 65

 

Di Indonesia bahkan telah terjadi banyak sekali aksi teror yang meresahkan masyarakat. Terorisme di Indonesia ditandai dengan adanya rentetan aksi peledakan bom yang amat marak dalam 10 tahun terakhir. Para pelaku dan tokoh-tokoh aksi teror bom akhirnya berhasil ditangkap dan dihukum mati seperti Amrozi, Ali Imran, Imam Samudera, Ali Ghufran dan yang lain. Tentunya juga gembong teroris paling dicari selama ini yakni Noordin M. Top. Mereka ini memang memiliki latar belakang Muslim, namun hanya segelintir orang saja dari jutaan muslim di Indonesia yang sepaham dengan mereka. Aksi peledakan bom di mata Noordin cs digunakan sebagai bentuk memerangi dan membalas musuh atas teror-teror yang selama ini ditujukan kepada umat Islam di mana-mana. Mereka menganggap bahwa aksi peledakan bom yang mereka lakukan memang sudah sewajarnya dan suatu bentuk jihad yang mulia. Tentunya argumentasi seperti ini tidak bisa diterima oleh sebagian besar Muslim di Indonesia. Mengenai data aksi peledakan terror bom di Indonesia bisa kita lihat dalam tabel 2 berikut:

 

Tabel 2. Aksi Peledakan Bom di Indonesia

(Silitonga, 2009: 7)

 

No Waktu Kejadian Lokasi Ledakan Korban
1 1 Agustus 2000 Kedubes Filipina 2 tewas, 21 luka berat
2 13 September 2000 Bursa Efek Jakarta
3 24 Desember 2000 Di sejumlah tempat Tidak ada korban
4 22 Juli 2001 Gereja Santa Anna & HKBP Jakarta Timur 5 tewas
5 31 Juli 2001 Gereja Bethel Tabernakel, Semarang Tidak ada korban
6 23 September 2001 Plaza Atrium Senen, Jakarta Tidak ada korban
7 6 November 2001 Australian International School, Jakarta Tidak ada korban
8 12 Oktober 2001 KFC Makassar Tidak ada korban
9 12 Oktober 2002 Paddy’s Pub n Sari Club, Kuta, Bali 200 tewas, 200 luka berat
10 3 Februari 2003 Wisma Bhayangkara Polri, Jakarta Tidak ada korban
11 27 April 2003 Bandara Soekarno Hatta 2 luka berat
12 5 Agustus 2003 Hotel JW Marriot, Kuningan Jakarta 14 tewas dan 152 luka berat
13 10 Januari 2004 Palopo, Sulawesi 4 tewas
14 9 September 2004 Dubes Australia, Jakarta 6 tewas
15 12 Desember 2004 Gereja Immanuel, Palu Tidak ada korban
16 28 Mei 2005 Tentena, Poso 22 tewas
17 8 Juni 2005 Rumah DPKMMI, Abu Jibril, Pamulang Tidak ada korban
18 1 Oktober 2005 Kuta, Bali 22 tewas
19 31 Desember 2005 Pasar di Palu Tidak ada korban
20 10 Maret 2006 Pura Agung Setana Narayana, Poso Tidak ada korban
21 22 Maret 2006 Pos Kamling, Poso Pesisir Tidak ada korban
22 1 Juli 2006 GKST Eklesia, Poso Tidak ada korban
23 3 Agustus 2006 Stadion Kasintuwu, Poso Tidak ada korban
24 17 Juli 2009 Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta 9 tewas

Dari tabel teror bom di atas yang paling menyesakkan adalah kecolongannya aparat negara dalam ledakan bom 17 Juli 2009 pagi di hotel JW Marriot dan hotel Ritz Carlton, Jakarta. Terlebih lagi hotel JW Marriot merupakan yang kedua kalinya dibom oleh para teroris. Tanggal 5 Agustus 2003 silam hotel JW Marriot telah diledakkan oleh bom dengan korban yang tidak sedikit, yakni 14 orang tewas dan 152 orang luka-luka. Disebut kecolongan karena seyogyanya aparat negara sudah punya kiat tertentu untuk melakukan pengamanan berdasarkan pada pengalaman puluhan kali perstiwa pengeboman. Biasanya setelah peristiwa peledakan bom seperti sekarang ini, aparat kemanan menjadi over sibuk melakukan pengamanan ketat di tempat-tempat umum, tempat-tempat penting dan instalasi vital. Tetapi setelah berlalu sekian waktu, kendor lagi. Setelah peledakan bom terakhir 2006 mungkin teroris melihat kelengahan itu dan tahun 2009 ini kembali beraksi dan meledakkan kedua hotel tersebut. (Silitonga, 2009: 7)

Lantas, penyebab dan penyulut aksi-aksi teror di Indonesia sebenarnya apa? Kalau kita melihat lebih cermat akar masalah terorisme salah satunya adalah ketidak-adilan dan kemiskinan. Terkait soal ini mantan Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa selagi kemiskinan masih merajalela, terorisme akan tetap ada. Karena itu tugas mengentaskan terorisme menjadi sangat mendesak. Kemiskinan sering membuat orang tidak bisa membedakan dan tidak peduli dengan tindakannya apakah termasuk kejahatan atau bukan. Memang kemisikinan bisa menyebabkan orang untuk merampok. Namun kemiskinan tetap tidak bisa membenarkan tindakan perampokan.

Perlu digaris bawahi bahwa terorisme tidak dapat dibenarkan dengan alasan reaksi atas kemiskinan dan ketidak-adilan. Seperti dikatakan oleh Edy Prasetyanto, dosen FISIP UI, penyebab bukanlah suatu alasan untuk melakukan kekerasan, kekejian dan kejahatan. Memang kemiskinan dan ketidak-adilan sebenarnya memudahkan teroris mempengaruhi dan merekrut orang miskin atau kelompok orang miskin yang merasa diperlakukan tidak adil. Karena itu salah satu langkah memberantas dan mencegah aksi teror-teror dari aspek non kemanan fisik adalah penegakan hukum dan keadilan serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Selain itu, aksi teror bom yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton membuktikan adanya pemain lama dari sel-sel Noordin M Top. Artinya ledakan itu sangat mungkin mengindikasikan adanya aliran dana asing untuk membiayai operasi kegiatan itu. “Aliran itu disebabkan sistem lalu lintas keuangan yang masuk ke Indonesia sulit terdeteksi karena mekanisme sistem perbankan kita tidak serapi sistem perbankan Singapura, sehingga kejahatan pencucian uang yang terjadi di Indonesia dengan mudah dilakukan tanpa terdeteksi,” kata Andi Widjojanto.

Dari aliran dana itu, disinyalir Indonesia menjadi target mereka karena ingin menjadikan Indonesia Taliban jilid kedua setelah Afganistan. Sebab rezim Taliban sedang berusaha memperluas pengaruhnya tidak hanya di Afganistan tapi juga di Indonesia. Mereka bergerak sejak tahun 2000, saat terjadi krisis ekonomi di mana Indonesia dinilai mereka memiliki peluang untuk menjadi targetnya. Sel-sel teroris memanfaatkan kelemahan yang ada.

Akhirnya, dengan ditembak matinya gembong teroris dan ahli perkait bom, Noordin M Top beserta anak buahnya, maka semoga menjadi titik tolak keberhasilan aparat dalam menanggulangi berbagai aksi teror bom di Indonesia selama ini. Tugas ini pun belum selesai karena bibit-bibit terorisme boleh jadi masih ada dan bisa meledak sewaktu-waktu. Tentunya sinergisitas antar semua pihak baik pemerintah sebagai pengambil kebijakan, aparat negara sebagai penegak kemanan serta masyarakat sebagai mitra pemerintah dalam memberantas laju terorisme harus dipelihara dengan baik. Pihak negara-negara luar juga harus benar-benar tulus dalam bekerja sama memberantas terorisme ini. Jangan lebih mengedepankan ego kenegaraannya sendiri. Dengan ini semua maka ke depan masyarakat tidak perlu lagi resah karena ancaman terorisme. Dengan demikian seluruh rakyat dapat dengan aman dan nyaman turut serta dalam pembangunan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. (Sihombing, 2009: 8)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, 2006. Prinsip Dasar Islam Menurut Al Quran dan As

       Sunnah yang Shahih. Bogor: Pustaka At Taqwa

Majalah Forum edisi 10-16 November 2009

Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2009

Muthahari, Murtada, 2002. Manusia dan Alam Semesta. Jakarta: Lentera

Prayitno, Dr. Irwan dan Abu Ridha, 2002. Al Ghazw Al Fikri. Bekasi: Pustaka

Tarbiatuna

Sihombing, SH, Romulus, 2009. ”Memerangi Terorisme”. Jakarta Timur: Gepenta

News

Silitonga, Mangontang, 2009. ”Kinerja Intelijen Lemah”. Jakarta Timur: Gepenta

News

Srijanti dkk, 2007. Etika Membangun Masyarakat Islam Modern Edisi 2. Jogjakarta: Graha Ilmu

www.eramuslim.com

www.okezone.com

www.ppiindia@yahoogroups.com

http://www.sabdaspace.org

www.selebzone.com

http://www.tempointeraktif.com

http://www.wikipedia.com

 

 

Ibuku, Inspirasi Suksesku

5 Nov

Ibuku, Inspirasi Suksesku

Hydrangeas

Sebenarnya kisahku ini telah membuat aku malu seumur-umur. Namun setelah kupikir panjang dan kutimbang-timbang, akhirnya aku berkesimpulan bahwa kejadian ini bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu tak jadi soal, meski aib diri ini terbongkar. Pastilah ada hikmah yang lebih baik dari pada hanya menjadi konsumsi pribadi. Kejadian ini terjadi sekitar pertengahan 2006 sampai akhir 2008. Rentang waktu yang cukup lama saat aku masih berjuang menyelesaikan studiku di Teknik Mesin Undip.

Kejadian bermula pada medio 2006. Saat itu aku masih duduk di semester 7. Sebagaimana semester sebelumnya, aku kembali mendapatkan tugas dari Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM), organisasi kemahasiswaan di kampusku untuk memfasilitasi pembayaran internet dan registrasi HMM dalam semester baru. Tugas ini sudah 2 kali kulakukan. Rekan-rekan di HMM mempercayakan hal ini padaku karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Juga karena akulah mahasiswa yang paling sering kelihatan di kampus dan terkenal jarang pulang kampung. Bahkan saat liburan sekalipun.

Ada 2 pembayaran yang harus kukelola yakni iuran internet sebesar Rp 100.000,00 dan iuran HMM Rp 25.000,00 per mahasiswa. Saat itu, aku bersama dengan 2 adik kelasku yakni Yugo dan Manov. Dengan imbalan Rp 400.000,00 untuk 3 orang, selama jangka waktu 2 minggu kami berusaha menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Mulai jam 8 pagi, selesai jam 3 sore. Begitu tiap harinya. Untuk tempat, kami memilih sudut bagian kiri ruangan TU, Gedung A. Sudut ini kami pilih karena dirasa lebih longgar dibandingkan sudut-sudut yang lain.

Di awal tugas, semua berjalan standar dan lancar. Masalah pasti ada, tapi masih sederhana dan selalu bisa dicari solusinya dengan segera. Namun sayang seribu sayang, konsistensi ini goyah. Petaka itu ternyata datang. 3 hari sebelum tugas ini usai, aku dihadapkan pada permasalahan yang cukup pelik. Aku tidak punya uang untuk membayar SPP semester ini. Padahal waktu pembayarannya paling lambat tinggal besok. Saat itu aku juga sedang banyak tanggungan. Biaya kos-kosan yang belum terbayar, batas terakhir pinjaman yang sudah jatuh tempo dan berbagai problem keuangan yang lain. Semua permasalahan ini datang menyerbuku bertubi-tubi, seakan meminta penyelesaian secara bersamaan.

Sejatinya aku mendapat beasiswa, namun uang beasiswaku sudah habis untuk membayar pinjaman. Dari awal kuliah, aku memang berusaha untuk tidak merepotkan orang tuaku yang hidup sederhana. Ayah yang berprofesi sebagai buruh tani dan ibu yang profesinya menjadi penjual tempe, sebenarnya tidak mendukungku secara finansial untuk bisa kuliah. Keinginan kuat dan doa restu orang tualah yang membuatku bisa kuliah dan terus bertahan sampai sekarang. Agar tidak merepotkan orang tua, aku tidak mau bercerita tentang masalah-masalah yang menderaku selama ini. Seperti permasalahan SPP ini, aku sama sekali tidak menceritakan kepada orang tua, terutama ibu, kalau aku sampai berhutang hingga 5 jutaan untuk membiayai kebutuhan kuliahku di Semarang. Aku hanya menceritakan kabar dan berita yang baik-baik saja. Kabar-kabar yang kurang mengenakkan berusaha kututup-tutupi sementara waktu. Akan kuceritakan semuanya nanti jika masalah itu berhasil kulewati. Cuma belakangan aku tersadar bahwa jujur dan menceritakan saja apa adanya kepada kedua orang tua, terkait apapun yang terjadi pada diri kita, adalah langkah yang lebih baik.

Mengenai uang bayaran SPP ini, otomatis aku kelabakan dan terus memutar otak bagaimana caranya agar mendapat uang setidaknya Rp 800.000,00. Uang ini perinciannya sebagai berikut: 700 ribu untuk pembayaran SPP, 50 ribu untuk pembayaran internet, 25 ribu untuk SAC (semacam laboratorium bahasa) dan 25 ribu untuk pembayaran HMM. Namun tak lama kemudian aku teringat dengan pengalamanku di 2 semester silam. Dulu aku mendapatkan uang SPP dari meminjam ke bendahara HMM dengan syarat segera mengembalikan. Akhirnya aku terpikirkan melakukan hal yang sama.

Saat itu kondisi kampus sedang liburan. Ketua HMM yang juga rekan seangkatanku yakni Anang dan bendahara HMM yaitu Rinrin tidak ada semua. Kudengar kabar mereka berdua sedang pulang kampung. Walaupun belum bertemu dengan keduanya, aku memutuskan untuk tetap meminjam uang HMM lagi. Akhirnya dengan asumsi bahwa nanti ketika melaporkan keuangan ke bendahara aku sudah bisa mengembalikan uang ini, aku langsung menyimpan semua uang iuran HMM ke rekening BNI-ku. Sesuai prediksiku, uang HMM di rekeningku ini akan terdebet secara langsung sejumlah Rp 700.000,00. Tentu saja, akhirnya aku bisa membayar SPP semester 7 dengan sedikit lega. Dan ternyata, inilah langkah salah yang kuambil. Yang belakangan kusayangkan adalah aku tidak segera menghubungi Anang dan Rinrin via HP atau secara langsung. Saat itu HP-ku sedang error. Dan anehnya, aku juga tidak meminjam HP teman, misalnya. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat.

Awalnya semua berjalan lancar. Namun karena sejumlah uang berada di tangan dan berbagai kebutuhan menghampiri, akhirnya beberapa uang kuambil untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Total uang yang kuambil sebanyak 1,792 juta rupiah. Padahal kebutuhan awalku hanya 800 ribu rupiah. Sepekan setelah mendebetkan uang ke rekening tabunganku, aku menyampaikan ke Anang kalau aku meminjam uang HMM 1,792 juta. Saat itu aku berjanji bahwa dalam 1 semester ke depan akan bisa mengembalikan pinjaman ini. Aku juga menghadap ke Rinrin dan mengatakan yang sama seperti saat bertemu dengan Anang.

Ya, semester 7 ini aku “sukses” berhutang ke HMM dengan nominal 1,792 juta. Di samping untuk berbagai pembayaran kuliah dan kos, uang-uang tersebut ternyata ada juga yang secara sengaja kugunakan untuk hal-hal mubazir. Makan sehari sampai 4 kali misalnya. Kemungkinan besarnya, saat itu aku kalap dan termakan bisikan makhluk jahat dalam diriku, agar santai saja menggunakan uang-uang ini. “Santai saja, kamu pasti bisa mengembalikan uang-uang HMM ini kok, Ri. Jadi, tetap tenang bro!” Begitulah kata-kata ajaib yang sering kudengungkan pada diri sendiri kalau aku teringat hutangku ini. Hal ini terus berlanjut dalam rentang waktu beberapa bulan. Di lain waktu, terkadang aku sadar bahwa yang kulakukan ini benar-benar keterlaluan dan di luar batas kewajaran.

6 bulan berlalu dengan segala lika-likunya. Kembali aku menjadi petugas registrasi HMM. Seperti biasa, kebanyakan mahasiswa yang lain tidak mau repot mengurusi hal ini. Kali ini aku bertugas hanya berdua saja, dengan Beni rekan seangkatanku. Setelah job selesai, tibalah saat aku harus menyerahkan laporan keuangan ini ke bendahara HMM. Dalam waktu yang kujanjikan, bukannya bisa mengembalikan hutang yang dulu, aku malah kembali berhutang lagi sebesar 800 ribu. Lagi-lagi untuk pembayaran SPP. Sehingga total hutangku ke HMM ada 2,592 juta. Yang lebih parah lagi adalah saat penyerahan uang ke Rinrin ternyata ada 400 ribu uang yang hilang entah ke mana. Aku merasa uang sejumlah Rp 6.650.000,00 sudah kuserahkan semua. Tetapi Rinrin mengatakan hanya ada Rp 6.250.000,00 yang dia terima. Ya sudah, meski berat, akhirnya aku mengalah karena mungkin akulah yang salah menghitung.

Selanjutnya aku merasa harus bertanggungjawab, walau tidak tahu juga kapan bisa membayarnya. Secara bertahap aku memang mencicil hutang-hutangku ini. Uang dari hasil mengajar privatku tiap bulan, proyekan-proyekan baru yang menghasilkan uang lumayan serta uang beasiswa yang masih turun, kualokasikan lebih banyak porsinya ke pembayaran hutang ini. Cuma memang tidak bisa langsung. Namun sayang seribu sayang, saat deadline terakhir pengembalian pinjaman ini, ternyata tidak semuanya bisa lunas. Padahal semua cara yang aku tahu dan aku merasa mampu telah kucoba.

Perasaan merasa bersalah tambah memuncak ketika kuketahui Rinrin sampai nangis-nangis karena masalah ini. Juga sikap Anang yang serasa menjauh. Anang juga pernah berstatemen dengan nada marah kepadaku bahwa, “Kepercayan itu mahal harganya, Ri!” Bumi ini terasa begitu sempit dan melakukan apapun rasanya tidak enak. Aku jadi merasa sangat bersalah dan merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Aku yang awalnya begitu aktif di mana-mana, sekarang berubah menjadi pemurung. Sering aku mengurung diri di kamar dan jarang mau berkumpul dengan teman-teman. Aku selalu mencari tempat-tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Jika pun harus melewati tempat yang ramai, aku berusaha memutar haluan mencari jalanan lain yang lebih sepi.

Dalam kesendirian ini, aku jadi teringat dengan masa laluku. Sering air mata ini tumpah tak terbendung. Aku masih ingat dengan keburukan-keburukanku di masa kecil. Sikapku yang begitu manja dan kekanak-kanakan, terutama pada ibu. Saat kecilku, ayah bekerja di Jakarta. Sehingga pada ibulah, aku meluapkan semua emosiku. Aku sering menggerutu kalau keinginan-keinginanku tidak terpenuhi. Bahkan terkadang hal-hal ekstrim seperti membayangkan dan mendoakan hal-hal buruk kepada ibu, juga bisa tiba-tiba muncul di pikiran. Biasanya ini terjadi saat emosiku memuncak. Aku jadi mulai berpikir, “Inilah akibat dari semua perbuatanmu di masa lalu, Er!”. Ya, mungkin ini yang dinamakan hukum karma.

Di kala penyendirian ini, ternyata kebiasaan lamaku menulis di buku harian ternyata malah tersalurkan. Terkadang aku menuliskan puisi, kata-kata motivasi, kisah-kisah pendek, perencanaan-perencanaan dan khayalan-khayalan terkait pelunasan hutang-hutangku ini. Aku masih ingat betul, saat itu aku malah berhasil menyelesaikan karya cerpen pertamaku di bangku kuliah yang kuberi judul “Tikus Aquarius”. Karya ini bercerita tentang kisahku yang berhasil melunasi hutang-hutangku dengan menjadi penulis cerpen. Karya ini kukirimkan ke Majalah Annida. Beberapa karya lain juga sempat kulayangkan ke beberapa redaksi surat kabar seperti Suara Merdeka dan Kompas. Tetapi semuanya nihil tanpa hasil. Bahkan karena untuk mengetik tulisan, mencetak karya dan mengirimkan naskah ini memerlukan biaya, aku terkadang meminjam uang lagi kepada orang yang berbeda. Selama ini uang yang kupunya adalah uangku mengajar privat anak-anak SD, SMP dan SMU. Uang-uang ini baru terkumpul saat aku gajian, sekitar tanggal 28. Mengingat ini semua, aku jadi semakin malu pada diriku sendiri. Bahkan aku juga jadi malu untuk ke kampus. Seingatku, aku sempat beberapa hari tidak berangkat kuliah. Terutama saat rasa malu ini mendominasi pikiranku.

Seiring berjalannya waktu, sejak akhir 2007 aku mulai berbenah. Aku mulai menerima diri apa adanya. Meskipun sering menyendiri, ada kalanya aku terpaksa harus bergabung dan berkumpul dengan rekan-rekanku. Sejauh ini ternyata mereka asyik-asyik saja berinteraksi denganku. Ritme keaktifan seperti yang dulu, mulai kujalani lagi apa adanya. Rapat-rapat organisasi, seminar-seminar, kajian dan jadwal perkuliahan mulai kembali kuhayati. Kebiasaanku membaca buku juga kembali menguat. Buku-buku motivasi untuk sukses dan perencanaan keuangan. menjadi perhatian utamaku saat itu. Hampir semua buku-buku yang kurasa bagus terkait hal ini, berhasil kulalap habis. Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J. Schwartz, beberapa buku-buku best-sellernya Robert T Kiyosaki seperti Rich Dad Poor Dad, The Cashflow Quadrant dan Retire Young Retire Rich, ESQ-nya Ari Ginanjar dan Laa Tahzan-nya Aid Al Qarni menjadi temanku saat aku ada waktu. Aku juga kembali menjadi golongan mahasiswa sufi (suka film) dengan menonton film-film yang menghibur nan inspiratif seperti Kungfu Panda, Children of Heaven dan Shaolin Soccer. Tentunya kegiatan menonton film ini kulakukan bersama teman-teman satu kos. Kami biasanya menonton di komputer Taufan. Oiya, Taufanlah, yang selama ini menghiburku kalau aku terlihat bengong dan murung.

Sejak itu aku benar-benar berusaha tidak menggampangkan sesuatu. Jika ada uang titipan dan sejenisnya, aku tidak begitu saja mau menggunakan uang ini untuk keperluan-keperluan pribadi. Meskipun situasi, kondisi dan keadaan sangat mendesak, aku berusaha bersabar. Dengan perenungan yang mendalam, pendekatan kepada Sang Khalik serta komitmen yang membuncah bahwa diri ini harus lebih baik di tahun-tahun setelah 2007, alhamdulillah di tahun 2008 berbagai keajaiban dari Allah mulai datang dan bermunculan tak terduga. Berawal dari keikutsertaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Wirausaha sekitar bulan April 2008, aku yang tergabung dalam tim bersama Yugo dan Riza berhasil menjadi perwakilan kampus untuk menang di tingkatan Jawa Tengah. Saat itu kami mengusung tema “Susu Pasteurisasi Sebagai Brand Baru Oleh-Oleh Kota Semarang”. Kami mendapatkan hadiah uang sebesar 4 juta dari even ini.

Tidak lama berselang sekitar Agustus 2008, bersama Lutvan dan Beni, aku berhasil menggondol juara I di ajang Lomba Karya Tulis Inovatif Mahasiswa (LKTIM) Diknas Jateng. Berawal dari tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD), tentang keinginan membuat suatu desa yang unik berdasar potensi lokal masyarakatnya, kucoba menggagas “Desa Wisata Tempe” di daerahku yakni di Dusun Sabrang Balong, Desa Gesikan, Kebumen. Ide ini muncul saat dalam perjalananku mengajar privat yang kulalui dengan berjalan kaki sekitar 45 menit. Akitivitas jalan kaki ini kugeluti selama satu semester. Saat itu aku memang benar-benar melakukan penghematan luar biasa dalam segala hal, termasuk biaya ngangkot. Ini kulakukan agar proyek pelunasan hutangku benar-benar bisa sukses. Ide Desa Wisata Tempe ini juga muncul karena kebetulan ibuku adalah pembuat dan penjual tempe. Uniknya, ibuku menjadi penjual tempe favorit warga karena mereka boleh ngutang dulu. Di ajang LKTIM yang cukup bergengsi ini kami mendapatkan reward uang cash sebesar 3 juta rupiah. Setelah dirembug dengan teman-teman tim, 70% dari uang ini dibujetkan untuk melunasi hutang-hutangku di HMM dan beberapa lembaga yang lain. Akhirnya hutangku di HMM dan DPRa benar-benar lunas di bulan Agustus.

Kisah ini belum seberapa. Yang paling membuatku trenyuh dan selalu ingin menangis adalah saat diri ini menjadi finalis Sayembara Penulisan Buku Bacaan SD Tingkat Rendah yang diadakan oleh Diknas Pusat. Saat ada informasi mengenai lomba ini, pikiranku mengarahkan agar tugas ISBDku tentang Desa Wisata Tempe dimodifikasi saja agar bisa layak baca oleh adik-adik SD. Tentunya naskah ini harus menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin. Akhirnya setelah melalui proses pengeditan sekitar 2 minggu, karya ini jadi dan kuberi judul “Ayo Kenal Lebih Dekat dengan Tempe”. Isi buku ini lumayan bagus karena memang cukup detail mengenalkan latar belakang penduduk Indonesia yang agraris namun penuh ironi. Dalam buku ini kutambahkan pula bab tentang teknologi pembuatan tempe dan berbagai tips-tips membuat tempe yang oke serta membuat produk olahan tempe yang enak dan lezat.

Pengalaman sebagai tentor adik-adik SD kelas 1-6, membawa banyak masukan dalam pembuatan buku ini. Beberapa kali aku juga meminjam buku Dhe Vidyan, putra tetangga di kos-kosan yang duduk di bangku kelas 3 SD Islam Diponegoro. Hal ini membawa rasa optimis di dadaku. Deadline pengumpulan pada tanggal 30 Juni sempat membuatku panik. Untungnya sehari sebelum sampai deadline berakhir, karya ini selesai dan langsung kukirim tepat di hari terakhir batas waktunya. Sayangnya aku belum sempat memasukkan salinan karya ini ke pihak kampus. Hal ini karena keterbatasan dana. Mengkopinya juga urung kulakukan, apalagi mengeprintnya. Benar-benar tidak memungkinkan. Meskipun demikian, saat dikirim ke panitia lomba, aku yakin buku ini bisa tembus. Yang lucu, format buku yang kukirim ini masih mirip dengan karya tulis-karya tulis mahasiswa pada umumnya. Tidak nampak seperti buku.

Cukup lama menunggu, sekitar akhir September aku ditelepon oleh pihak Diknas melalui nomor HP Taufan. Ternyata pada awal Oktober aku juga dapat surat dari pihak Panitia Lomba yang isinya menerangkan bahwa bukuku masuk dalam 45 besar naskah yang lolos di tingkat Nasional. Awalnya aku merasa biasa saja dan bersyukur pada Allah. Sampai akhirnya aku kembali ditelepon oleh pihak panitia tentang kesiapan untuk berangkat ke lokasi penyelenggaraan tahap II Sayembara Penulisan ini. Syaratnya aku harus membawa laptop sendiri karena nantinya akan ada sesi perbaikan naskah. Aku mulai pusing memikirkan hal ini. Kebetulan juga, saat itu aku ada beberapa permasalahan. Akibatnya serangan hebat sakit kepala mulai mengganggu aktivitasku.

Suatu saat di hari Minggu, aku ada di laboratorium untuk melakukan pengujian terkait Tugas Akhir (Skripsi) yang sedang kugarap. Lumayan lama aku di sana. Mulai dari jam 08.00 sampai jam 17.30. Bahkan sampai di kosan pun malah baru jam 8 malam karena harus mengerjakan beberapa hal lain yang cukup mendesak. Akhirnya malam itu aku lupa tidak makan. Padahal esok paginya merupakan hari Senin. Biasanya aku selalu berpuasa senin-kamis. Ada banyak manfaat yang bisa kuambil dari kebiasaan baik ini. Di samping dapat pahala (Insya Allah), puasa ini juga sebagai sarana penghematanku sebagai anak kos yang uang bulanannya teramat pas-pasan. Dengan tekad yang bulat aku tetap berpuasa hari itu. Hal ini karena sering juga saat puasa sunnah seperti ini, aku tidak bersahur. Selama ini pun, aku selalu sehat-sehat saja dan tetap kuat sampai adzan maghrib berkumandang.

Namun keesokan harinya saat hendak berangkat ke kampus untuk ngelab lagi sekitar jam 9, ternyata badan ini memanas. Kepala ini pun memusing. Benar-benar pusing luar biasa. Akhirnya aku sms Ardhan dan Dana, rekan TA-ku bahwa hari ini aku terpaksa ijin untuk tidak ngelab. Saat itu kami berencana hendak membuat cetakan terbaru kampas rem sepeda motor. Kebetulan cetakan yang terdahulu kurang berhasil karena saat dilakukan proses sintering di Mesin Hoffmann, cetakannya malah lengket. Juga karena setelah dipanaskan, kampas rem mengalami retak-retak.

Praktis seharian penuh aku di kamar saja. Saat itu aku menempati kamar Mas Supri yang sedang dinas di luar kota. Pagi dan siang hari, aku dibelikan makan oleh Parno. Saat sore hari, aku dikerokin oleh Diboy yang memang cukup piawai dalam hal kerok-mengkerok. Terutama saat ada saudaranya yang sakit. Malamnya, aku malah dibelikan Jus Buavita rasa Guava oleh Diboy sebagai jus terapi untuk sakitku .

Pagi sampai siang, aku masih di kamar. Saat sore menjelang, pusingku semakin bertambah. Setelah didesak oleh teman-teman, akhirnya aku menyerah dan mau untuk dibawa ke dokter. Dengan alasan biaya, aku lebih memilih ke klinik kesehatan. Saat di sana kami harus mengantri terlebih dahulu. Dokternya ibu-ibu. Setelah melakukan adminstrasi dan ditanya tentang keluhan yang melanda, akhirnya aku diobati dengan cara yang unik, model akupunktur. Ini model pengobatan yang baru pertama kali kurasakan. Pengobatannya dengan menusukkan jarum di beberapa titik tubuh yang diprediksi sebagai sumber sakit. Sebelum pulang, aku sempat bertanya ke bu dokter tentang penyakitku ini. Beliau mengatakan bahwa aku terkena Vertigo. Vertigo ini adalah sakit yang tanda-tandanya penderita mengalami sakit kepala atau pusing yang teramat sangat. Aku sih santai-santai saja mendengar jenis penyakit ini. Belakangan kuketahui bahwa Vertigo lumayan mengerikan karena si penderita rawan terkena penyakit stroke.

Aku juga menanyakan rencana keberangkatanku ke Bandung kepada bu dokter. “Kira-kira dengan sakitku seperti ini, masih memungkinkankah aku pergi ke Bandung? Atau tidak usah, misalnya. Takutnya kalau terjadi apa-apa.” Bu Dokter menjawab, “Yang penting istirahat cukup dan pola makan dijaga.” Jika langkah ini dilakukan dengan baik, 2 hari mendatang kondisiku akan lebih baik. Akhirnya aku pulang ke kosan dengan Parno. Kami memilih naik taksi.

Selama 2 hari berikutnya, praktis aku lebih banyak di kamar. Kala malam datang, pusing itu akan muncul dengan tiba-tiba dan rasanya begitu menyengat luar biasa. Pada malam sebelum berangkat ke Bandung, aku mencoba memikirkan berbagai alternatif personal yang bisa dipinjam uangya untuk menggantikan biaya ke Bandung. Awalnya aku mau pinjam ke Lutvan. Cuma uangnya belum bisa dipinjam. Akhirnya aku mencoba ke Restu, adik kelasku. Kebetulan kami sama-sama dari Kebumen. Untungnya si Restu langsung bersedia meminjamkan uangnya setelah kujelaskan panjang lebar tentang rencanaku ke Bandung. Setelah mengambil uang di ATM, aku mengajaknya ke biro perjalanan terdekat. Kebetulan di daerah Ngesrep ada biro perjalanan yakni Adi Putra Tours & Travel. Biaya pemberangkatan travel Semarang-Bandung dipatok 150 ribu.

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mulai menyiapkan barang-barang apa saja yang musti dibawa ke Bandung. Saat itu aku meminjam travel bag Gunadi serta membawa tas kecil punyaku. Ada beberapa buah baju yang kubawa untuk ke Bandung dan tentunya kupilih yang bagus-bagus. Satu hal yang belum ada adalah laptop. Untungnya pagi-pagi aku teringat Mas Kuri, rekan bisnis mahasiswaku. Aku mencoba sepagi mungkin sehabis subuh untuk mengontak dia dan memastikan apakah dia bisa meminjamkan laptopnya. Ternyata dia tidak bisa dihubungi saat kutelepon. Akhirnya jalan terakhir adalah meng-sms nomor HP-nya. Ternyata aku sudah kehabisan pulsa, sehingga praktis aku tak bisa sms.

Sambil mempersiapkan hal yang lain, pada waktu yang begitu mepet aku ternyata mendapat respon positif dari Mas Kuri. Beliau meminta maaf karena baru saja olahraga. Saat itu jam 7 lebih 10 menit. Padahal aku harus sudah di agen Adi Putra agar bisa menunggu mobil travel pada pukul 07.30. Jelas aku kelimpungan. Setelah beberapa kali menanyakan kapan laptop bisa diambil aku langsung putuskan untuk ke Mas Kuri untuk mengambil laptop. Ternyata saat aku ke kos Mas Kuri, dianya malah tidak ada di kosan.

Dengan terburu-buru, kupercepat langkahku sekencang mungkin agar bisa segera sampai di depan pemberhentian angkot. Beruntung tidak lama menunggu, akhirnya aku dapat angkot dan sepuluh menit berselang aku sudah sampai di Adi Putra Tours & Travel untuk menunggu mobil travelnya. Saat kutanyakan ke bapak agen travel yaitu Pa Adi, beliau menjelaskan bahwa mobil baru ada sekitar setengah jam lagi. Mendengar kata-kata Pa Adi, aku langsung menyambar gagang telepon wartel yang memang selokasi dengan Adi Putra Tours & Travel. Kembali kucoba mengontak Mas Kuri. 3 kali tidak ada respon, namun tetap kucoba lagi. Alhamdulillah untuk yang keempat ini, telepon Mas Kuri diangkat. Dan akhirnya kuberitahukan kepadanya bahwa aku sudah berada di Adi Putra Tours & Travel, dekat patung kuda Pangeran Diponegoro. Aku berharap betul beliau mau membawakan laptopnya. Kutunggu hampir seperempat jam, akhirnya Mas Kuri datang dengan membawa tas berisi laptop dan semua perlengkapannya. Setelah mengobrol tentang harga sewa selama 5 hari, akhirnya harga sewa disepakati 300 ribu. Saat itu aku belum ada uang sehingga aku berhutang dulu. Untungnya Mas Kuri bersedia. Alhamdulillah, masalah laptop terselesaikan.

Jam 9 tepat mobil travel penjemputku datang. Aku dan penumpang travel lain masih harus ke berbagai tempat di area Semarang untuk menjemput beberapa penumpang yang lain. Kami sempat masuk ke gang di daerah sekitar Pasar Karangayu. Juga sempat mengambil penumpang di perumahan yang rumahnya begitu bagus dan tertata rapi di kawasan Pantai Marina. Akhirnya, tepat pukul 10 semua penumpang mobil travel ini sudah naik semua.

Perjalanan Bandung-Semarang memakan waktu 8 jam. Dalam perjalanan yang panjang ini, aku harus berbagi konsentrasi agar tetap kuat menahan deraan pusing yang teramat kuat menyergap. Sesampainya di Bandung, hampir 2 jam sendiri kami berkeliling di kota Bandung untuk mengantar penumpang yang lain. Aku berada pada posisi juru kunci saat pengantaran penumpang karena tempat tujuanku adalah Hotel Grand Permata Resto di daerah Setrasari, Bandung. Hotel ini berada di kawasan kampus Universitas Maranatha. Daerah tujuanku ini adalah daerah tujuan paling ujung dibandingkan penumpang travel yang lain.

Tepat jam 20.45 aku sampai di depan pintu hotel. Sampai di sana, aku sudah disambut oleh 2 orang berkostum padu-padan yang begitu rapi. Kemudian aku dipersilahkan menuju bagian resepsionis. Selanjutnya aku diminta untuk mengisi daftar hadir. Akhirnya aku diantar sampai anak tangga terbawah, untuk dibawa ke lantai atas yang merupakan tempat tinggal peserta Sayembara Naskah Buku SD Tingkat Rendah. Aku langsung diberi kunci nomor D 204. Saat itu kepalaku benar-benar masih pusing, pening, penat, cekot-cekot dan hampir muntah. Untungnya aku berusaha menahan semua rasa ini agar orang-orang di sekitarku tidak merasa iba dan kasihan.

Setelah menaiki tangga, aku sampai juga di depan ruangan kamar. Awalnya aku kebingungan untuk membuka kamar hotel tersebut. Ternyata cara membukanya sangat unik yakni memasukkan kartu terlebih dahulu bagaikan suatu sandi. Setelah sensor cahayanya muncul, baru kunci aslinya bisa digunakan untuk membuka kamar tersebut. “Kamarnya besar sekali,” pikirku. Aku jadi teringat dengan kamar hotel saat KKL di Bali 2 tahun lalu. Akhirnya aku meletakkan barang-barangku di kamar tersebut. Lima menit berselang, bergegas aku keluar kamar dan menuju panitia untuk menanyakan selanjutnya bagaimana.

Setelah tanya sana-sini cukup lama, aku mulai paham bahwa acara sudah dimulai 2 jam yang lalu. Sesampainya di ruangan yang ditunjukkan oleh satpam hotel, aku langsung masuk. Begitu masuk, aku menjadi pusat perhatian karena malam-malam begini masih ada peserta yang baru datang. Namun, acara malam itu ternyata sudah selesai.

Lalu, aku pun menuju kamarku. Aku sekamar dengan Pa Sahlan (40 tahun), Pa Arifin (35 tahun) dan Mas Lian (28 tahun). Pa Sahlan adalah Kepala SMP di Lotim, NTB. Beliau banyak cerita tentang hobinya yang sejak kecil sudah suka menggambar. Kalau Pa Arifin adalah guru kelas 6 SD di Jogja. Saat itu beliau membawa segunung berkas-berkas tugas kantornya karena sedang deadline pembuatan soal-soal LKS yang sedang menjadi proyek bersama dengan tim MGMP di kotanya. Sedangkan Mas Lian terkesan paling santai. Beliau adalah guru Bahasa Inggris kelas 3 SMP di Purwakarta. Sebelum menjadi guru, beliau sempat menjadi EO artis-artis dan even-even berskala besar dengan hasil sangat lumayan. Sekarang, Mas Lian lebih enjoy menjadi guru.

Hari-hari di Bandung benar-benar luar biasa. Berbagai makanan enak yang disantap tiap hari, menjadikan semua peserta betah. Kamar yang begitu besar dan kasur yang begitu empuk membuatku serasa di surga saja. Acara-acara yang ditawarkan juga amat menarik. Selama di Bandung, aku dan finalis lain mengikuti 2 hari pelatihan, 2 hari perbaikan naskah dan 1 hari penentuan juara-juaranya.

Berbagai hal telah kulalui selama 4 hari pertama di hotel ini. 2 hari pertama, aku jadi mengenal banyak penulis se-Indonesia serta menambah pundi-pundi ilmu kepenulisan. Adanya pembicara yang berasal dari berbagai latar belakang dengan kekhasan yang berbeda menjadikan pelatihan 2 hari ini menjadi hidup. Untuk naskah, setelah kubandingkan dengan teman sekamar, ternyata naskahku kurang bagus. Menurutku karya Pa Sahlan paling bagus.

Hari terakhir, hampir semua peserta terlihat sibuk untuk mengedit naskahnya masing-masing. Aku sempat melihat naskah Kang Hendi, penulis dari Bandung. Bukunya benar-benar penuh warna dan lengkap benar. Aku jadi terinspirasi untuk memperbaiki naskahku agar tidak terlihat apa adanya begitu saja. Aku mempermak karyaku yang berjudul “Ayo Kenal Lebih Dekat dengan Tempe” menjadi semenarik yang aku bisa.

Saat beberapa kali melakukan pengeditan naskah ini, aku sempat mendapat beberapa pesan YM (Yahoo Messenger), friendster dan email. Beberapa sms juga kudapatkan dari rekan-rekan di Semarang, Bandung dan Jakarta. Aku sempat juga menghubungi anak-anak Etoser Bandung, komunitas yang dulu sempat kusinggahi saat Studi Banding Mahasiswa ke ITB dan UPI. Aku menghubungi Nur Ahmadi, Etoser Bandung dari daerah yang sama denganku, Kebumen bahwa aku akan mampir ke Etos dan Perhimak Bandung.

Akhirnya pada kamis malam semua naskah harus segera masuk ke panitia. Aku menyerahkan semua naskahku tepat pada pukul 22.00. Ternyata sampai malam-malam pun masih ada finalis yang belum selesai. Keesokan harinya, kami hanya santai-santai saja. Sebelum sarapan pagi, Pa Sahlan tiba-tiba menanyakan apakah aku sudah memberitahu ibuku di Kebumen terkait hal ini. Aku menjawab bahwa aku memang belum menghubungi lagi orang tua di rumah. Saat itu aku sedang tidak ada pulsa. Akhirnya aku dipinjami HP Pa Sahlan. Selanjutnya kukabari ibu dengan menghubungi HP Tanti, sepupuku. Kujelaskan panjang lebar kepada ibu, kalau aku sedang di Bandung dalam rangka sayembara menulis buku dan mohon didoakan agar berhasil. Ibu merespon dengan sangat baik.

Keesokan paginya merupakan hari yang ditunggu-tunggu seluruh peserta sayembara. Seperti biasa, acara dimulai dengan sambutan dan beberapa seremoni upacara. Juga diselingi beberapa hiburan dari penyanyi. Beberapa dewan juri yang hobi menyanyi, menyumbangkan suaranya di sesi ini. Beberapa peserta juga tidak mau kalah. Kemudian pengumuman siapa juara-juaranya diumumkan pukul setengah 10. Ternyata juara 3 dulu yang dipanggil. Sejumlah 20 orang per kategori. Yang tidak kuduga, Pa Sahlan masuk dalam 20 orang ini. Kaget juga, karena aku secara pribadi menjagokan Pa Sahlan menjadi juara 1. Pa Arifin juga dipanggil dalam kelompok pertama ini. Pengumuman kedua tentang 15 orang juara kedua. Mas Lian masuk di kategori kedua ini. Ternyata aku juga masuk. Akhirnya nama-nama yang belum disebut langsung berbahagia karena menjadi 10 yang terbaik. Tercatat ada Mba Amel, Kang Hendi, Bu Suprihatin dan 7 nama lainnya. Belakangan kuketahui, Bu Suprihatin yang sudah berumur lanjut ternyata tidak bisa mengetik. Dia menuangkan ide menulisnya dengan meminta bantuan tukang rental. Ada juga peserta termuda yakni Dhe Faisal kelas 3 SMP beserta ibunya yakni Bu Zahra. Keduanya menjadi finalis dan mendapatkan juara 3. Sesi ini benar-benar menjadi momen yang paling mengharukan.

Setelah semua beres, kami mengambil uang hadiah dan penggantian biaya transportasi. Aku benar-benar mendapatkan uang hadiah tersebut yakni 15 juta rupiah. Dengan tambahan untuk akomodasi selama di Bandung serta dipotong pajak 15 %, kuhitung ada uang Rp 14. 250.000,00 di amplop warna cokelat. Lalu kukabari Arif, sahabat karibku dari SMP tentang hal ini via sms. Aku juga mengabari Nasikhin via YM, temanku di UI yang kebetulan sedang online.

Sebelum pulang ke Semarang aku sempat istirahat 2 jam di Asrama Etos. Karena waktu sudah tidak memungkinkan untuk mampir ke Asrama Perhimak, akhirnya kuputuskan untuk membatalkan singgah di sana. Aku dan Nur Ahmadi bergegas menuju ke Stasiun Kereta Api Kiara Condong. Sebelum ke stasiun, kami menyempatkan ke Pasar Baru di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) untuk berbelanja. Namun, sesampainya di sana, pasar sudah tutup. Akhirnya kami membeli oleh-oleh berupa dodol dan keripik tempe. Untuk oleh-oleh ini, 2 tasku terisi penuh barang-barang ini. Aku juga menitipkan sebagian oleh-oleh ini ke Nur Ahmadi untuk rekan-rekan Etoser Bandung. Kami memutuskan untuk makan malam dulu karena memang belum sempat makan.

Akhirnya aku naik kereta api eksekutif saat pulang menuju Semarang. Nur Ahmadi mengantarku sampai tempat duduk. Kemudian kami berpisah. Saat itu pukul 20.30. Aku duduk bersebelahan dengan Mas Trian, anggota TNI yang dinas di Aceh dan sedang dalam perjalanan pulang ke Semarang karena istrinya melahirkan. Di seberangku ada Pa Tri, peserta sayembara penulisan naskah dari Semarang juga. Sama seperti aku.

Pagi-pagi sekitar jam 5, kami sampai di Stasiun Tawang dan aku minta ke Pak Tri agar shalat terlebih dahulu. Beliau dengan senang hati mempersilahkan. Hari itu hari minggu. Beliau yang beragama Kristen mulanya ada jadwal ibadah pagi. Cuma karena diprediksi akan tetap terlambat, beliau mengatakan akan mengambil jadwal ibadah yang siang saja. Saat menuju rumah Pa Tri kami memilih naik taksi. Rumah Pa Tri ada di Jalan Pakis III/55, Klipang Alam Permai. Selama perjalanan, kami banyak mengobrol tentang keluarga dan pekerjaan Pa Tri. Setelah Pa Tri turun, taksi pun melaju melanjutkan perjalanan menuju kosku di daerah Jalan Banjarsari, Gg Nirwanasai I/1, Tembalang.

Saat sampai di Tembalang, suasana kos masih sepi. Aku langsung menuju kamar dan istirahat. Setengah jam kemudian, ternyata Bayu masuk kamar dan mendapatiku sudah sampai di kos. Kontan dia kaget dan berteriak histeris, “Woi…, Pa Eri sudah pulang dari Bandung”. Akhirnya praktis seharian itu aku bercerita panjang lebar tentang pengalaman selama di Bandung. Sore hari aku membeli roti brownies 10 pak, kemudian kubagi-bagikan ke pihak-pihak lain yang sudah kurencanakan. Setidaknya 2,5 % dari hadiah ini kualokasikan untuk zakat. Ya, semacam syukuran, lah.

Keesokan harinya aku langsung mengagendakan pulang kampung. Saat ayah dan ibu melihat kepulanganku, mereka begitu bahagia. Bahkan saat kuberitahu tentang besarnya hadiah yang kubawa mereka benar-benar terharu dan tidak menyangka. Ibu bercerita dengan begitu antusias bahwa setelah kutelepon dari Bandung beliau langsung bermunajat kepada Allah dan banyak-banyak berdoa agar aku diberikan yang terbaik. Mataku menjadi berkaca-kaca.

“Alhamdulillah ya Allah, semoga ke depan aku makin lebih baik. Dan semoga pula aku kian mantap dalam upaya membahagiakan kedua orang tuaku, terutama ibu. Aku akan berusaha mempersembahkan yang terbaik semampuku. Spesial untuk ibu, terima kasih untuk semua inspirasi, dedikasi dan perjuanganmu selama ini. Maafkan atas segala kesalahanku di masa lalu. Ibu, aku akan selalu mencintaimu dan berbakti kepadamu sampai di ujung waktu,” doaku dalam hati.

Mie Sehat Alamie Surabaya

15 Okt

Bismillah…
Kini telah hadir…!!!
6 Varian Mie Sehat Organik “Alamie”

1. Bayam hijau goreng
2. Bayam hijau kuah
3. Bayam merah goreng
4. Buah naga goreng
5. Wortel goreng
6. Wortel kuah

Harga 5000 rupiah tanpa syarat dan ketentuan apapun..
👪 Insya Allah cocok dikonsumsi oleh seluruh keluarga
🌿 Non MSG, tanpa bahan kimia, bahan pengawet & bahan pewarna.
☑ Halal MUI & Full Depkes RI PIRT No 2063471011084-17.

Info Pemesanan:
SMS/Call: 082143774816
BBM: 7F5E0D55
WA: 087852967684

Mie Sehat Alamie

Mie Sehat Alamie